Jumat, 10 April 2020

Cara Kreatif Belajar Sinematrografi dari Rumah di tengah Pandemi Covid 19


Cara Kreatif Belajar Sinematrografi dari Rumah di tengah Pandemi Covid 19





Dalam blog ini saya sedikit bercerita bagaimana wabah covid 19 bisa memperluas...

Pandemi Korona virus 2019-20 adalah pandemi penyakit corona virus sedang berlangsung 2019 (COVID-19), yang disebabkan oleh sindrom pernafasan akut yang parah corona virus 2 (SARS-CoV-2). Wabah ini pertama kali dicatat di Wuhan , provinsi Hubei , Cina, pada Desember 2019. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan wabah itu sebagai Kesehatan Masyarakat Darurat dari Kepedulian Internasional pada 30 Januari 2020 dan mengakui sebagai pandemi pada 11 Maret 2020. Pada 6 April 2020, lebih dari 1.270.000 kasus COVID-19 telah dilaporkan di lebih dari 200 negara dan wilayah, mengakibatkan sekitar 69.500 kematian. Lebih dari 264.000 orang telah pulih.

Virus ini terutama menyebar selama kontak dekat, dan oleh tetesan kecil yang dihasilkan selama batuk, bersin, atau berbicara. Tetesan kecil ini juga dapat diproduksi saat bernafas, tetapi dengan cepat jatuh ke tanah atau permukaan dan umumnya tidak menyebar melalui udara dalam jarak yang jauh. Orang juga dapat menangkap COVID-19 dengan menyentuh permukaan yang terkontaminasi dan kemudian wajah mereka. Virus ini dapat bertahan di permukaan hingga 72 jam. Penyakit ini paling menular selama 3 hari pertama setelah onset gejala, meskipun penyebaran mungkin terjadi sebelum gejala muncul dan pada tahap selanjutnya penyakit. Waktu antara paparan dan onset gejala biasanya sekitar lima hari, tetapi dapat berkisar dari 2 hingga 14 hari. Gejala umum termasuk demam, batuk, dan sesak napas.

Dalam wabah ini yang sudah memasuki negara Indonesia sejak bulan Maret 2020 dan sudah menyebar di berbagai provinsi di seluruh Indonesia. Dampak dari covid 19 semua aktifitas yang mempunyai perkumpulan ramai seperti sekolah,kampus,perkantoran dan tempat beribadah pun di tiadakan sementara. 

Untuk perkuliahan di kampus saya pun di liburkan sehingga saya dan teman-teman tidak bisa mengikuti pelajaran seperti biasanya. Para dosen mengalihkan untuk belajar di rumah dengan cara sistem class online menggunakan aplikasi. Nah di sini saya akan belajar sinematrografi dari rumah dengan adanya pandemi covid 19 yang saat ini masih mewabah di negara kita. Sebelumya saya disini sudah membeli buku Memahami Film karya Himawan Pratista, dalam buku ini kita akan belajar cara memahami bagaimana unsur film,jenis film,genre film dan beberapa bab lainnya.

Sebagian besar orang masih melihat film secara terpisah. Film biasanya hanya dinilai dari sisi cerita atau tema, akting pemain, dan mungkin sedikit sisi sinematrogafinya. Kedalaman memahami seni film masih sangat terbatas. Pengetahuan tentang film sebagai sebuah karya seni masih berada di ruang-ruang kuliah semata, padahal film bukanlah milik para akademisi saja, melainkan milik semua orang yang hobi menonton.
Kelebihan buku ini adalah mampu memberikan contoh-contoh dari setiap unsur pembentuk
film dengan disertai ilustrasi dan referensi film. Contoh-contoh tersebut akan memudahkan pembaca
untuk mengerti teori yang sedang dibahas. Pokok bahasan dalam buku ini antara lain:
* Jenis dan Ciri Genre
* Aspek Naratif:
* Pola Linier dan Nonlinier
* Struktur Tiga Babak dan Alternatif
* Aspek Sinematik:
* Mise-en-scene: Latar, kostum, lighting, dll
* Sinematografi: deep focus, kamera subyektif, handheld camera, long take, dll
* Editing: efek Kuleshov, editing kontinuiti dan diskontinuiti, dll
* Suara: efek suara, ilustrasi musik, diegetic dan nondiegetic sound, dll


Sebuah film bagi kebanyakan orang hanya dianggap sebagai tontonan yang menghibur. Namun, film ternyata memiliki kemampuan untuk berkomunikasi menggunakan bahasa visual dan audio yang khas, yakni bahasa sinematik. Film tidak hanya berbicara masalah jenis, genre, dan tema film, namun juga bagaimana cerita dikemas dengan segala aspek sinematiknya, yakni mise-en-scene, sinematografi, editing, serta suara. Bahasa sinematik yang demikian variatif menjadi pilihan bagi sineas untuk berkarya. Untuk bisa memahami film secara utuh, tentunya harus memiliki pengetahuan yang memadai tentang bahasa sinematik. Buku Memahami Film Edisi Kedua ini merupakan pengembangan sekaligus pembaruan dari isi buku Memahami Film Edisi Pertama. Tebal buku edisi kedua ini hampir 2x buku edisi pertama. Buku edisi kedua ini menggunakan contoh-contoh kasus baru, lebih dari 500 judul film untuk memudahkan pemahaman pembaca terhadap bahasa sinematik. Empat bab baru hadir dalam buku ini, yakni tentang opening dan ending credits, tribute/homage, film franchise, hingga sejarah film dunia. Semua ini akan melengkapi pengetahuan dan pemahaman pembaca terhadap film. Semua bahasan disajikan ringan dengan contoh film-film populer masa kini.





Pada bagian awal buku, Himawan membagi jenis-jenis film menjadi tiga, yaitu film dokumenter, film fiksi, dan film eksperimental. Kemudian dibahas macam-macam genre film, yaitu Genre Induk Primer dan Genre Induk Sekunder. Kedua induk besar ini dibagi lagi menjadi beberapa kelompok, seperti aksi, drama, epik sejarah, fantasi, film noir, biografi, dsb. Himawan juga mengklasifikasikan struktur film menjadi tiga bagian (shot, scene, sequence). Klasifikasi ini memudahkan film maker untuk menyusun pola dalam proses pembuatan film. Buku ini memfokuskan pembahasan pada unsur-unsur pembentuk film yang berupa unsur naratif dan unsur sinematik. Unsur naratif adalah suatu rangkaian kejadian yang berhubungan satu sama lain dan terikat oleh logika sebab-akibat (kausalitas). Kejadian-kejadian ini berlangsung dalam suatu ruang dan waktu. Sebuah kejadian tidak bisa terjadi begitu saja tanpa ada alasan yang jelas. Segala hal yang terjadi pasti disebabkan oleh sesuatu dan terikat satu sama lain oleh hukum kausalitas. Dalam sebuah film cerita, setiap kejadian pasti disebabkan oleh kejadian sebelumnya. Misalnya , pada shot A tampak seorang bocah sedang menendang bola dan shot B memperlihatkan kaca jendela yang pecah. Hal ini menunjukkan bahwa shot B merupakan akibat dari shot A.

Secara garis besar, film terdiri dari dua unsur utama, yakni naratif dan sinematik. Akan tetapi keduanya harus hadir berkesinambungan dan tak bisa berdiri sendiri-sendiri. Tantangan fundamental membuat film adalah tentang mengupayakan aspek sinematik menyampaikan aspek naratifnya.Secara personal, saya cenderung memandang film sebagai medium pesan, sehingga isi pesan yang disampaikan kadang menjadi lebih penting daripada cara penyampaiannya. Saya tetap mempertimbangkan nilai-nilai politis dalam tiap film yang saya tonton. Itulah kenapa sampai hari ini saya adalah penonton film yang jauh lebih fokus terhadap wacana dan keberesan sisi naratif dalam film dibanding seluk beluk sinematiknya. Karenanya, penting tidak penting, membaca buku Memahami Film membuat saya setidaknya mulai mengerti aspek teknis dasar estetika sinema. Setidaknya saya jadi tahu apa itu mise-en-scene, low key lighting, rack focus, crane shot, dissolve, jump cut, dan terminologi-terminologi lainnya. Dan sepertinya buku ini memang punya maksud dijadikan diktat kajian perfilman, sehingga pemaparannya lugas dan sistematis disertai contoh kasus dan visualisasi.




Walaupun dalam keaadaan wabah covid 19 tidak menghalangi saya untuk belajar tentang sinematrografi di rumah yaa namanya juga harus Stay At Home. Demikianlah blog ini saya buat, semoga pandemi covid 19 ini segera pulih yaa dan bisa kuliah seperti biasanya.

Terimakasih..... 


Penelitian Kehidupan Pak Den Si Penjual Racun Tikus Sepeda Palembang

 Assalamualikum Wr Wb. Berjumpa lagi di blog saya kali ini tengtang tugas akhir makalah Call For Paper MK Metode Penelitian Komunikasi Kuali...